Jika kita pergi ke Fulan Fehan atau Benteng Makes di Atambua, pasti kita akan melewati rumah tradisional yang besar. Penghuninya adalah perempuan yang rendah hati dan sakti.

Fulan Fehan dan Benteng Makes ada di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, NTT. Jika dari Kota Atambua jaraknya sekitar 39.5 km yang ditembuh dalam waktu 1,5 jam.

MMM 2804201702

Di ujung aspal menuju Fulan Fehan dan Benteng Makes, ada perempatan desa. Di sana ada rumah tradisional Suku Bunak yang disebut Rumah Adat Siri Gatal Purbul.

Atapnya terbuat dari jerami, sangat panjang sehingga nyaris menyentuh tanah. Rumah tersebut ditinggali perempuan tua berusia 90 tahun, bernama Mama Maria Corry. Tim Tapal Batas bersilaturahmi dengan Mama Maria Corry, pada Kamis 30 Maret 2017 bersama dengan Pemkab Belu.

Suasana desa sangat asri dengan suara gonggongan anjing meramaikan suasana disekelilingnya. Kami harus membungkuk untuk melewati atap yang rendah, di baliknya ada tangga menuju ke rumah panggung. Mama Maria tampak sehat ketika kami berkunjung.

“Saya saat ini tinggal sendirian saja. Sehari-hari menanam jagung dan makan jagung. Rumah ini sudah berdiri sejak tahun 1910,” kata Mama Maria.

Dinding rumah ini adalah kayu tua penuh dengan ukiran berbentuk manusia leluhur Suka Bunak. Namanya Bei Siri, Bei Mali, Bei Eduk. Ada juga ukiran berbentuk senjata dan hewan. Tengkorak kerbau juga menjadi hiasan dinding teras rumah.

Ternyata, tidak sembarangan orang boleh masuk ke rumah Mama Maria. Keluarga sendiri tinggal di rumah berbeda. Mama Maria merupakan orang yang di hormati di seluruh desa, karena dia mau tinggal di rumah adat Siri Gatal dan merawat banyak benda pusaka suku Bunak.

Jika tidak ditinggali Mama Maria, kemungkinan rumah dengan kayu eucalyptus ini sudah dimakan rayap. Rumah ini sudah sempat direnovasi. Sejak ditinggali Mama Maria, dia rajin mengasapi rumah supaya lebih awet.

Untungnya kami boleh masuk ke dalam, karena didampingi Kabag Humas dan Protokol Pemkab Belu, Fridolinus Siribein, yang masih saudara dengan Mama Maria. Di dalam Mama Maria menunjukan kamar tidurnya dan dapur tempat dia memasak.

“Dulu waktu terjadi perang di Timor Leste, orang masuk ke rumah ini untuk ambil Kakaluk (jimat-red) supaya mereka kebal peluru. Tiap kali ada perang mereka selalu mengambilnya di sini. Ini adalah rumah adat yang paling ditakuti,” kata Frido.

Bukan Mama Maria yang memberikan kesaktian itu (kebal), melainkan tetua yang lain. Tapi, Mama Maria juga ada kesaktian lho. Hal ini diceritakan oleh Sylvester Han, saudara dari Mama Maria yang tinggal di rumah permanen di depan rumah adat ini.

“Ini Mama Maria sering mengobati orang yang patah tulang. Langsung sembuh mau patah atau hancur. Tiga hari, lima hari, tujuh hari, sembuh memang,” kata Sylvester.

Frido pun menambahkan, “Biasanya jika ada orang yang jatuh dari motor dibawa ke sini jika dokter sudah menolak. Habis itu dia sembuh kembali. Kemarin ada pendeta patah kaki, dibawa ke dokter dan ditolak, dibawa ke sini. Beberapa hari lalu saya lihat, kakinya sudah normal kembali.”
MMM 28042017
Sementara Sylvester dan Frido bercerita, Mama Maria diam saja. Dia terlihat tidak terlalu suka menceritakan tentang kesaktiannya. Sylvester mengatakan Mama Maria menggunakan tumbuhan-tumbuhan sebagai obat untuk menyembuhkan yang dirahasiakan dari nenek moyang.

Selain keahlian Mama Maria menyembuhkan patah tulang, dia juga merawat senjata pusaka pedang kelewang. Kami saat itu tidak boleh melihatnya, tapi Sylvester mengatakan bahwa kelewang itu barang keramat yang berusia ratusan tahun yang pernah dipakai berperang.

“Ada pernah orang mencuri kelewang, tapi datang kembali. Dibawa sampai kemana kami tidak tahu. Tapi kelewang ini sendiri balik ke sini,” kata Sylvester.

Sungguh percaya tidak percaya. Kami pun lantas berpamitan dengan Sylvester dan Mama Maria yang sakti dan rendah hati.

Biasanya, wisatawan tidak boleh masuk ke dalam Rumah Adat Siri Gatal Purbul. Namun, untuk berfoto dari depan rumah atau pinggir jalan raya, itu masih diperbolehkan.

Sebelum kami pulang, Sylvester menitip pesan kepada kami tentang pembangunan di desanya. Banyak potensi wisata seperti Sabana Fulan Fehan dan Benteng Makes, namun akses jalan menjadi kendala utama. Masih menanjak curam dan berbatu.

“Tolong perhatikan keadaan kami. Perhatikan jalan ini, kendaraan tidak dapat naik. perhatikan jalan ke sana, naik turun ke Dirun, Benteng Makes, Fulan Fehan. Pemerintah di sini tidak perhatikan,” curhatnya.

Advertisements